TUGAS BAHASA INDONESIA

NAMA : Dwi Nur Rahmawati
NPM :12113684
KELAS : 3KA07
FAKULTAS ILMU KOMPUTER TEKNOLOGI DAN INFORMASI
SISTEM INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016
MATA KULIAH : BAHASA INDONESIA 2
DOSEN : NURMANINGSIH
- ASPEK PENALARAN DALAM KARANGAN
·
Menulis
Sebagai Proses Penalaran
Menulis merupakan suatu
pengungkapan pikiran yang dituangkan ke dalam bentuk sebuah tulisan. Ide yang
dituangkan oleh si penulis dapat berasal dari pengalaman dan pengetahuan atau
pun imajinasi dari si penulis.
Menulis merupakan proses
bernalar. Dimana pada saat kita ingin menulis sesuatu tulisan baik itu dalam
bentuk karangan atau pun yang lainnya, maka kita harus mencari topiknya
terlebih dahulu. Dan dalam mencari suatau topik tersebut kita harus berfikir,
maka pada saat kita berfikir tanpa kita sadari kita sendiri telah melakukan
proses penalaran. maka pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan sedikit
mengenai menulis merupakan prosae bernalar.
Setiap hari kita selalu
menggunakan otak kita untuk berfikir, bahkan setiap detik dan menit kita
menggunakan otak kita untuk berfikir. Pada saat kita berpikir, maka dalam benak
kita akan akan timbul bermacam-macam gambaran tentang sesuatu yang hadirnya
tidak secara nyata. misalnya pada saat-saat kita melamun. Kegiatan berpikir
yang lebih tinggi dilakukan secara sadar, tersusun dalam urutan yang saling
berhubungan, dan bertujuan untuk sampai kepada suatu kesimpulan. Jenis kegiatan
berpikir vang terakhir inilah yang disebut kegiatan bernalar.
Berdasarkan uraian di atas, dapat
kita ambil kesimpulan bahwa proses bernalar atau singkatnya penalaran merupakan
proses berpikir yang sistematik untuk memperolch kesimpulan berupa pengetahuan.
·
Pengertian
dan Jenis Penalaran
Penalaran (reasioning) adalah
suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta atau petunjuk
menuju suatu kesimpulan. Dengan kata lain, penalaran adalah proses berpikir
yang sistematik dalan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan. Bahan
pengambilan kesimpulan itu dapat berupa fakta, informasi, pengalaman, atau
pendapat para ahli (otoritas).
Secara umum, ada dua jenis
penalaran atau pengambilan kesimpulan, yakni penalaran induktif dan deduktif.
- Penalaran Induktif
dan Coraknya
Penalaran induktif adalah suatu
proses berpikir yang bertolak dari sesuatu yang khusus menuju sesuatu yang
umum.
Penalaran Induktif dapat
dilakukan dengan tiga cara
- Generalisasi
Generalisasi adalah proses
penalaran yang bertolak dari sejumlah gejala atau peristiwa yang serupa untuk
menarik kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari gejala atau peristiwa itu.
Generalisasi diturunka dari gejala-gejala khusus yang diperoleh melalui
pengalaman, observasi, wawancara, atau studi dokumentasi. Sumbernya dapat
berupa dokumen, statistik, kesaksian, pendapat ahli, peristiwa-peristiwa
politik, sosial ekonomi atau hukum. Dari berbagai gejala atau peristiwa khusus
itu, orang membentuk opini, sikap, penilaian, keyakinan atau perasaan tertentu.
Beberapa contoh penalaran
induktif dengan cara generalisasi adalah sebagai berikut:
Berdasarkan pengalaman, seorang
ibu dapat membedakan atau menyimpulkan arti tangisan bayinya, sebagai ungkapan
rasa lapar atau haus, sakit atau tidak nyaman.
Berdasarkan pengamatannya,
seorang ilmuwan menemukan bahwa kambing, sapi, onta, kerbau, kucing, harimau,
gajah, rusa, kera adalah binatang menyusui. Hewan-hewan itu menghasilkan
turunannya melalui kelahiran. Dari temuannya itu, ia membuat generalisasi bahwa
semua binatang menyusui mereproduksi turunannya melalui kelahiran
- Analogi
Analogi adalah suatu proses yag
bertolak dari peristiwa atau gejala khusus yang satu sama lain memiliki
kesamaan untuk menarik sebuah kesimpulan. Karena titik tolak penalaran ini
adalah kesamaan karakteristik di antara dua hal, maka kesimpulannya akan
menyiratkan ”Apa yang berlaku pada satu hal, akan pula berlaku untuk hal
lainya”. Dengan demikian, dasar kesimpula yang digunakan merupakan ciri pokok
atau esensial dari dua hal yang dianalogikan.
Beberapa contoh penalaran
induktif dengan cara analogi adalah sebagai berikut:
1.
Dalam
riset medis, para peneliti mengamati berbagai efek dari bermacam bahan melalui
eksperimen binatang seperti tikus dan kera, yang dalam beberapa hal memiliki
kesamaan karakter anatomis dengan manusia. Dari kajian itu, akan ditarik
kesimpulan bahwa efek bahan-bahan uji coba yang ditemukan pada binatang juga
akan terjadi pada manusia.
2.
Dr.
Maria C. Diamond, seorang profesor anatomi dari University of California
tertarik untuk meneliti pengaruh pil kontrasepsi terhadap pertumbuha cerebral
cortex wanita, sebuah bagian otak yang mengatur kecerdasan. Dia menginjeksi
sejumlah tikus betina dengan sebuah hormon yang isinya serupa dengan pil.
Hasilnya tikus-tikus itu memperlihatkan pertumbuhan yang sangat rendah
dibandingkan dengan tikus-tikus yang tidak diberi hormon itu. Berdasarkan studi
itu, Dr. Diamond menyimpulkan bahwa pil kontrasepsi dapat menghambat
perkembangan otak penggunanya.
Dalam
contoh penelitian tersebut, Dr. Diamond menganalogikan anatomi tikus dengan
manusia. Jadi apa yang terjadi pada tikus, akan terjadi pula pada manusia.
- Hubungan Kausal (Sebab Akibat)
Penalaran induktif dengan melalui
hubungan kausal (sebab akibat) merupakan penalaran yang bertolak dari hukum
kausalitas bahwa semua peristiwa yang terjadi di dunia ini terjadi dalam
rangkaian sebab akibat. Tak ada suatu gejala atau kejadian pun yang muncul
tanpa penyebab.
Cara berpikir seperti itu
sebenarnya lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya dalam
dunia ilmu pengetahuan.
Contoh:
·
Ketika
seorang ibu melihat awan tebal menggantung, dia segera memunguti pakaian yang
sedang dijemurnya. Tindakannya itu terdorong oleh pengalamannya bahwa mendung
tebal (sebab) adalah pertanda akan turun hujan (akibat).
·
Seorang
petani menanam berbagai jenis pohon dipekarangannya, tanaman tersebut dia
sirami, dia rawat dan dia beri pupuk. Anehnya, tanaman itu bukannya semakin
segar, melainkan layu bahkan mati. Tanaman yang mati dia cabuti. Ia melihat
ternyata akar-akarnya rusak da dipenuhi rayap. Berdasarkan temuannya itu,
petani tersebut menyimpulkan bahwa biang keladi rusaknya tanaman (akibat)
adalah rayap (sebab).
3.Penalaran Deduktif dan Coraknya
Penalaran
deduksi adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari sesuatu yang umum
(prinsip, hukum, teori atau keyakinan) menuju hal-hal khusus. Berdasarkan
sesuatu yang umum itu, ditariklah kesimpulan tentang hal-hal khusus yang
merupakan bagian dari kasus atau peristiwa khusus itu.
Contoh :
Semua
makhluk hidup akan mati
Manusia
adalah makhluk hidup
Karena
itu, semua manusi akan mati.
Dari
contoh tersebut dapat diketahui bahwa proses penalaran itu berlangsung dalam
tiga tahap.
-
Pertama,
generalisasi sebagai pangkal bertolak (pernyataan pertama merupakan
generalisasi yang bersumber dari keyakina atau pengetahuan yang sudah diketahui
dan diakui kebenarannya.
-
Kedua,
penerapan atau perincian generalisasi melalui kasus atau kejadian tertentu.
-
Ketiga,
kesimpulan deduktif yang berlaku bagi kasus atau peristiwa khusus itu.
Penalaran
deduktif dapat dilakukan dengan dua cara
- Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penalaran
yang menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan
sebuah kesimpulan yang merupakan proposisi yang ketiga. Proposisi merupakan
pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau dapat ditolak karena
kesalahan yang terkandung didalamnya.
Dari pengertian di atas,
silogisme terdiri atas tiga bagian yakni: premis mayor, premis minor, dan
kesimpulan. Yang dimaksud dengan premis adalah proposisi yang menjadi dasar
bagi argumentasi. Premis mayor mengandung term mayor dari silogisme, merupakan
geeralisasi atau proposisis yang dianggap bear bagi semua unsur atau anggota
kelas tertentu. Premis minor mengandung term minor atau tengah dari silogisme,
berisi proposisi yang mengidentifikasi atau menuntuk sebuah kasus atau
peristiwa khusus sebagai anggota dari kelas itu. Kesimpulan adalah proposisi
yang menyatakan bahwa apa yang berlaku bagi seluruh kelas, akan berlaku pula
bagi anggota-anggotanya.
Contoh:
Premis
mayor : Semua cendekiawan adalah pemikir
Premis
minor : Habibie adalah cendekiawan
Kesimpulan
: Jadi, Habibie adalah pemikir
- Entinem
Entiem adalah suatu proses
penalaran dengan menghilangkan bagian silogisme yang dianggap telah dipahami.
Contoh:
Berangkat
dari bentuk silogisme secara lengkap:
Premis
mayor : Semua renternir adalah penghisap darah dari orang yang
sedang
kesusahan
Premis
minor : Pak Sastro adalah renternir
Kesimpulan
: Jadi, Pak Sastro adalah peghisap darah orang yang kesusahan.
Kalau
proses penalaran itu dirubah dalam bentuk entinem, maka bunyinya hanya menjadi
”Pak Sastro adalah renternir, yang menghisap darah orang yang sedang
kesusahan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar